Posts mit dem Label Die Deutschen werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label Die Deutschen werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Sonntag, 6. Januar 2013

Perempuan dan Laki-Laki dalam Dunia Kerja


wahh di jerman juga ternyata ada kesetaraan gender.... baca yukk artikel berikut ini...

Seperti halnya dengan keadaan di negara lain dengan tatanan masyarakat modern, persamaan hak untuk kaum perempuan yang dituntut oleh undang-undang dasar telah mengalami perkembangan cukup jauh. Di bidang pendidikan misalnya, anak perempuan tidak saja dapat mengejar ketertinggalan terhadap anak laki-laki, melainkan malah sudah mendahului mereka. Di antara peserta ujian akhir gimnasium – yaitu sekolah lanjutan taraf tertinggi – terdapat 56 persen perempuan; andil perempuan muda pada jumlah mahasiswa baru di perguruan tinggi mencapai 50 persen. Empat puluh dua persen dari gelar doktor diraih oleh perempuan.

Semakin banyak perempuan mencari nafkah dalam pekerjaan. Sebagai salah satu dampak undang-undang tahun 2008 yang mengatur tunjangan dalam hal perceraian, kegiatan kerja menjadi semakin penting bagi kaum perempuan – memang hampir 70 persen di antara mereka bekerja. Namun sedangkan kebanyakan laki-laki bekerja purnawaktu, perempuan sering bekerja paruh waktu, khususnya mereka yang anaknya belum masuk sekolah. Dalam hal upah dan gaji pun masih tetap ada perbedaan cukup besar antara laki-laki dan perempuan. Tingkat gaji rata-rata dari perempuan yang bekerja purnawaktu hanya senilai 77 persen dari imbalan kerja rata-rata rekan laki-lakinya, dalam kelompok penerima gaji tertinggi bahkan hanya 73 persen. Biarpun perempuan kini semakin sering meraih posisi pimpinan dalam dunia kerja, halangan yang mereka hadapi dalam meniti karier masih cukup besar juga. Contohnya, hampir separuh di antara para mahasiswa, tetapi hanya sepertiga di antara karyawan ilmiah dan 17 persen saja di antara para profesor adalah perempuan.

Salah satu faktor penghalang bagi kenaikan posisi dalam pekerjaan ialah, jaringan tempat asuhan anak balita masih perlu dioptimalkan, dibandingkan dengan keadaan di negara Eropa lainnya. Perubahan yang terjadi dalam hal pembagian kerja rumah tangga antara perempuan dan laki-laki masih relatif kecil juga. Walaupun 80 persen di antara para ayah menyatakan ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak mereka, tetapi kaum perempuan, termasuk mereka yang bekerja, menyediakan waktu untuk mengasuh anak dua kali lipat banyaknya. Boleh dikatakan yang memanfaatkan fasilitas cuti asuhan anak hingga kini hanya kaum perempuan saja. Namun sejak berlakunya aturan tunjangan orangtua, (lihat halaman 147) jumlah ayah yang cuti sementara dari tempat kerja untuk mengasuh bayinya meningkat menjadi hampir 16 persen lebih. Akan tetapi mayoritas para ayah tersebut (70 persen) memilih tinggal di rumah selama dua bulan saja.

Dibandingkan dengan penempatan posisi pimpinan di dunia usaha, perempuan sudah lebih mapan di dunia politik. Dalam kedua partai politik besar, SPD dan CDU, hampir setiap ang­gota ketiga atau keempat adalah perempuan. Perkembangan menarik terjadi dalam keanggotaan Bundestag: Pada tahun 1980 hanya delapan persen anggota parlemen adalah perempuan, kini hampir 33 persen. Sejak tahun 2005 Angela Merkel menjadi perempuan pertama yang menjabat Kanselir Federal Jerman.


Masyarakat Jerman – Modern, Majemuk dan Terbuka




Masyakarat Jerman bersifat modern. Kebanyakan orang memiliki pendidikan yang baik, taraf hidup yang tinggi dalam perbandingan internasional, dan ruang gerak yang cukup luas untuk mengatur kehidupan secara individual. Biar begitu, masyarakat Jerman, sama dengan negara industri besar lainnya, kini menghadapi tantangan mengatasi masalah perkem­bangan demografis, khususnya penuaan masyarakat. Lagi pula dampak pembelahan Jerman di bidang kemasyarakatan belum diatasi sepenuhnya dua puluh tahun setelah terjadinya reunifikasi. Dalam rangka globalisasi, Jerman melangkah juga ke arah masyarakat imigrasi modern dengan kemajemukan etnobudaya yang terus meningkat, sambil menggiatkan upaya untuk mengintegrasikan kaum migran ke dalam mayarakat inti secara wajar. Perubahan sosioekonomis yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir ini – dengan dipercepat oleh akibat krisis ekonomi dan keuangan global – telah menimbulkan keadaan penuh risiko sosial dan mengakibatkan kecenderungan diversifikasi masyarakat menurut kondisi hidup di bidang ekonomi. Laporan terakhir Pemerintah Federal mengenai kemiskinan dan kekayaaan mengungkapkan, bahwa setiap warga Jerman keempat diang­gap sebagai miskin atau harus dipelihara dari kemiskinan melalui pemberian negara. Menurut definisi UE, rumah tang­ga termasuk kategori “miskin”, kalau pendapatannya berjumlah kurang dari 60 persen pendapatan menengah. Untuk orang lajang, pendapatan menengah kini berjumlah sekitar 780 Ero per bulan.


KEHIDUPAN SEHARI-HARI ORANG JERMAN



Beberapa hari terakhir saya mendapat masukan dari pembaca untuk tema post berikutnya. Terima kasih Andik untuk 2 tema yang kamu sarankan dan juga Debby yang membandingkan kualitas Universitas di Jerman dan di Indonesia, yang sebenarnya di Jerman bukan hanya untuk studi, tetapi juga untuk belajar kebiasaan dan kultur orang Jerman. Dari situ saya mau bahas di post kali ini beberapa cuplikan kehidupan sehari-hari orang Jerman yang mungkin bisa memberi masukan yang positif buat pembaca dari Indonesia yang mempunyai latar belakang kultur yang sangat berbeda dengan orang Jerman.

1. Satu kali makan panas
Orang Jerman pada umumnya hanya satu kali makan panas, biasanya untuk makan siang. Jadi sarapan dan makan malam roti. Buat orang Jerman terlalu repot kalo 3 kali makan sehari harus selalu masak atau memanaskan makanan. Selain itu untuk makan siang juga biasanya mereka punya jenis makanan yang simple, contohnya kentang, Schnitzel, Wurst, salat dan lain-lain. Selain itu orang Jerman juga tidak suka makan seperti orang Indonesia. Beberapa orang Jerman yang saya kenal pernah ke Indonesia tidak mengerti mengapa orang Indonesia sering sekali makan, termasuk makan cemilan seperti pisang goreng atau batagor, walaupun baru saja makan siang.
2. Jalan-jalan di taman, ganti mall
Di Jerman istilah mall jarang dipakai, karena jarang ada. Yang ada di Jerman adalah Fußgängerzone, yaitu daerah pejalan kaki terbuka dan di sebelah kiri-kanan ada toko-toko. Pada umumnya orang Jerman lebih suka meluangkan waktu untuk jalan-jalan di taman dari pada ke mall. Mereka biasanya hanya pergi belanja kalo memang ada keperluan tertentu dan bukan hanya untuk jalan-jalan.
3. Sepeda ganti mobil
Sepeda adalah alat transportasi yang sangat difavoritkan di Jerman. Biasanya kalo musim semi, musim panas, dan musim gugur mulai banyak orang Jerman yang lebih menggunakan sepeda dari pada mobil. Pengalaman saya pribadi sewaktu masih sering naik sepeda karena tidak punya mobil, kalo ngobrol dengan orang Indonesia biasa mereka langsung bertanya “Kenapa ga beli mobil?”, sedangkan orang Jerman bilang “Gut, es ist gesund.”(terjemahan: bagus hidup sehat). Lalu setelah saya punya mobil, orang Indonesia bilang “Mobilnya apa?”, sedangkan orang Jerman “Wo ist dein Fahrrad?”(terjemahan: kemana sepeda kamu?). Bahkan di Jerman manager juga banyak yang naik sepeda.
4. Pengalaman ganti materi
Orang Jerman dikenal sebagai orang yang sangat senang pergi berlibur. Biasanya orang Jerman setidaknya dalam satu tahun pergi berlibur. Untuk itu mereka lebih memilih mengeluarkan uang untuk berlibur dari pada membeli barang mahal. Juga orang Jerman tidak selalu membeli oleh-oleh atau barang di tempat mereka berlibur. Selain itu orang Jerman juga senang pergi ke museum, tempat bersejarah, dan outdoor.
5. Rumah tanpa pembantu
Sampai sekarang saya tidak kenal satu orang Jerman pun yang memiliki pembantu, karena pembantu sangat mahal. Oleh karena itu semua pekerjaan rumah tangga harus dikerjakan sendiri. Pada umumnya orang Jerman menggunakan hari sabtu untuk membersihkan rumah mereka. Ini juga salah satu alasan mengapa orang Jerman hanya makan panas satu kali sehari. Ada juga orang Jerman yang membayar orang untuk membersihkan rumah mereka, tetapi jadinya orang yang membersihkan rumah mereka hanya datang seminggu sekali untuk waktu 2-3 jam.
6. 2 hari sekali mandi, bukan 2 kali sehari
Berbeda dengan di Indonesia, karena di sini lebih dingin dan udaranya lebih bersih orang Jerman tidak perlu mandi sering-sering. Selain itu udara di sini lebih kering dari pada di Indonesia, jadi kalo sering mandi maka kulit akan kering. Karena itu kira-kira orang Jerman mandi 2 hari sekali.
7. Pertandingan bola dan hari minggu
Kedua hari ini adalah hari di mana biasanya sepi. Pada pertandingan bola Jerman melawan negara lain, biasanya orang-orang berkumpul di rumah atau pergi ke bar untuk nonton bola bersama. Jadi kira-kira selama 2 jam pertandingan bola kota-kota di Jerman sangat sepi. Pada hari minggu karena toko, supermarket, dan perkantoran tutup jadi sebagian besar orang Jerman tinggal di rumah. Biasanya hari minggu juga digunakan oleh orang Jerman untuk jalan-jalan ke taman atau naik sepeda.

yah itulah kutipann tetntang keseharian orang" jerman.....

Samstag, 5. Januar 2013

Was essen und trinken die Deutschen




1. Die Deutschen haben drei Hauptmahlzeiten: das Frühstück, das Mittagessen und das Abendessen.
2. Man frühstückt morgens zwischen 6 und 8 Uhr. Zum Frühstück essen viele Leute belegte Brötchen mit Käse oder Wurst und trinken Kaffee oder Tee.
3. Das Mittagessen ist zwischen 12 und 14 Uhr. Die Deutschen essen zu Mittag gewöhnlich keine Suppe und nie Brot. Meistens gibt es Fleisch, Gemüse und Kartoffeln. Seltener isst man auch Reis oder Makkaroni.
4. Zwischen 16 und 17 Uhr haben die Leute im Büro, im Betrieb oder in der Schule eine Kaffeepause, wo man wieder eine Tasse Kaffee trinkt. Dazu gibt es Kuchen oder Kekse.
5. Das Abendessen gibt es zwischen 18 und 20 Uhr. Zu Abend isst man gewöhnlich kalt: Brot mit Butter, Schinken, verschiedene Wurstsorten, Fisch, Salate. Manchmal isst man zu Abend Suppe.
6. Die Essgewohnheiten der Deutschen sind verschiedenartig. Jeder isst das, was ihm am besten gefällt. Man sagt:„Über den Geschmack lässt sich nicht streiten“.

karakter masyarakat jerman


 simak yuukk, gemana sih karakter masayarakat Jerman itu.... :) 

Jerman adalah negara 4 musim dengan jumlah penduduk sekitar 80 Juta jiwa. Pada puncak musim dingin, hari akan lebih cepat menjadi gelap. Sebaliknya pada puncak musim panas, hari terang akan dilalui dengan lebih lama. Sebagai gambaran, pada musim dingin sholat subuh biasanya dilakukan sekitar jam 7 pagi. Sebaliknya, buka puasa dapat dilakukan setelah jam 10 malam pada musim panas. Perbedaan waktu antara Jerman dan Indonesia, adalah sekitar 5 jam pada musim panas dan 6 jam pada musim dingin. Jadi, misalnya, ketika telekonferensi ini dilakukan pada jam 9 pagi waktu Jerman, berarti waktu di Indonesia menunjukkan pukul 2 siang.

Karakter masyarakat di Jerman




Mmmm…karakter orang-orang Jerman pada umumnya terbagi dua.
Ada golongan muda dan golongan tua.Dan diantara dua golongan ini sering terjadi salah paham dan GAP yang sangat besar.Para manula di jerman dibiayai oleh pemerintah dalam urusan asuransi dan uang hidup bulanan, sehingga mereka mengatakan bahwa kaum muda pemalas dan tidak mau kerja.Hal ini mungkin dilatarbelakangi oleh masa lalu mereka yang ditindas dan hidup dalam diktator militer Hitler.Ini dapat dilihat dari sikap mereka terhadap warga asing  di pusat-pusat keramaian maupun tempat lain. Sedangkan golongan muda mengatakan bahwa kaum tua tidak mengerti aspirasi mereka,dan selalu mengatur hingga ke cara berpakain,pemakaian tata bahasa (hoch deutsch atau umgangsprache),hingga cara berinteraksi dengan warga negara lain.Tetapi di lain pihak, hal ini menguntungkan bagi kaum pendatang di Jerman, karena mereka akan lebih mudah menjalin persahabatan dengan warga negara yang umurnya relatif lebih muda.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More